Senin, 30 November 2015

Kota yang Berhasil dan Gagal dalam penerapan Green City

Nama : Nurul azmi yuningsih
Kelas : 2TB04
NPM : 28314257
Mata Kuliah : Arsitektur dan Lingkungan


Green City (Kota hijau) adalah konsep pembangunan kota berkelanjutan dan ramah lingkungan yang dicapai dengan strategi pembangunan seimbang antara pertumbuhan ekonomi, kehidupan sosial dan perlindungan lingkungan sehingga kota menjadi tempat yang layak huni tidak hanya bagi generasi sekarang, namun juga generasi berikutnya.
Green city bertujuan untuk menghasilkan sebuah pembangunan kota yang berkelanjutan dengan mengurangi dampak negatif pembangunan terhadap lingkungan dengan kombinasi strategi tata ruang, strategi infrastruktur dan strategi pembangunan sosial.
            Berikut adalah contoh dari kota yang berhasil dalam menerapkan elemen Green city:

1.   Barcelona, Spanyol (Kota Cerdas atau Smart City)



Program Kota Cerdas Barcelona menampilkan tujuh inisiatif unggulan diantaranya adalah sistem pencahayaan pintar (smart lighting), energi pintar (smart energy), air pintar (smart water), transportasi pintar (smart transportation) dan mobilitas bebas karbon. Target ini dikombinasikan dengan perbaikan tata kota, kajian ekologi dan teknologi informasi guna meningkatkan kualitas lingkungan dan kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Dampak program Kota Pintar Barcelona ini telah dirasakan: 50% sistem energi untuk penerangan kota telah berhasil dikontrol dari jarak jauh. Dan 12% taman-taman kota ditargetkan memiliki alat pengendali irigasi jarak jauh pada akhir 2013.
Barcelona juga berhasil menambah jalur sepeda dan pejalan kaki sejauh 2 kilometer dari 73 km jalur hijau yang telah tersedia. Barcelona tahun ini masuk sebagai finalis Siemens dan Cities Climate Leadership Group (C40) City Climate Leadership Awards 2013 untuk kategori Intelligent City Structure.

2.   Copenhagen, Denmark – the bike city sets a trend in Europe



Copenhagen merupakan ibu kota negara yang dinobatkan sebagai salah satu kota yang sangat ramah lingkungan sedunia. Denmark termasuk dari negara pertama di dunia yang menetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan menerapkan hukum lingkungan pada tahun 1973. Jelas sekali, pada saat ini Copenhagen mengadi kota utama di Eropa yang mempromosikan dan menerapkan gaya hidup public yang peduli lingkungan. Ibukota Denmark ini juga dianggap sebagai ibukota organik di dunia, dikarenakan satu dari 10 produk yang dijual disini adalah produk organik.
Sistem penyewaan sepeda dan 100 km jalur sepeda menyediakan 36% dari seluruh masyarakat untuk dapat bersepda lebih dari 1.1 juta km sehari. Diantara beberapa sumber lainnya, Copenhagen disupplai oleh turbin angin yang terletak di lepas pantai dan merupakan kota Scandinavian pertama yang melaksanakan aturan “green roof”. Aturan ini mewajibkan seluruh atap dengan kemiringan dibawah 30 derajat untuk dilengkapi dengan tanah dan vegetasi.

3.    Bogotá, Kolombia


Bogotá adalah kota yang berambisi menyediakan ribuan bus rendah emisi pada akhir 2014. Kota ini juga memiliki program kendaraan listrik paling ambisius di dunia.
Sebanyak 200 bus pengumpan (feeder) hibrida (bertenaga campuran bensin dan listrik) saat ini tengah diproduksi dan diperkirakan akan bisa digunakan pada akhir tahun ini. Bogotá juga menargetkan pengoperasian 46 taksi listrik dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari taksi sebesar 70%.
Jaringan bus rapid transit (BRT) Bogotá yang diperkenalkan pada 2000 terus berkembang dan berhasil mengangkut 1,5 juta penumpang per hari. Pembangunan BRT tahap ketiga sepanjang 36 km saat ini masih terus berlangsung. BRT di Bogotá adalah skema transportasi pertama yang berhasil mendapatkan dana karbon di bawah Protokol Kyoto.
Bogotá kini bekerja sama dengan operator bus dan lembaga keuangan seperti Bank Dunia dan IDB guna memromosikan pembiayaan inovatif sehingga mampu menularkan program-program ini ke kota-kota lain. Bogotá adalah pemenang Siemens dan C40 City Climate Leadership Awards untuk kategori Urban Transportation tahun ini.


Selain beberapa kota yang berhasil, namun ada juga kota yang gagal dalam penerapan green city, bahkan pada beberapa kota hampir sebagian besar lingkungannya rusak mulai dari polusi udara, air, tanaman, dll.
Berikut adalah contoh kota yang gagal dalam penerapan green city :

Beijing, Heibei, Tianjin (China)


3 kota utama diatas adalah kota dengan kadar polusi yang sangat banyak hingga mereka tidak mencapai standar lingkungan. Hal ini salah satunya disebabkan karena mereka memproduksi 55% Besi Cina, 40% semen, juga 52% gas dan diesel.
Bahkan hampir sebagian besar kota kota di bagian utara China memiliki masalah dengan polusi udara ini, dampaknya selain terhadap negara China ini sendiri, juga mulai merambah ke negara di sekitarnya.

http://www.colorcoat-online.com/blog/index.php/2010/12/the-worlds-greenest-cities/
http://bappeda.bandaacehkota.go.id/program-strategis/green-city/
http://www.hijauku.com/2013/10/15/13-kota-bersaing-menjadi-yang-terhijau/

Kamis, 19 November 2015

ISU PENERAPAN ARSITEKTUR LINGKUNGAN YANG BERHASIL

Telah disebutkan pada post yang sebelumnya bahwa secara umum, arsitektur lingkungan adala hkegiatan bangun membangun yang berkaitan dengan perencanaan tata kota, landscape planning, urban design, interior maupun eksterior yang memperhatikan kondisi fisik sumber daya alam, yang meliputi air, tanah, udara, iklim, cahaya, bunyi dan kelembaban. Arsitektur lingkungan sangat berkaitan erat dengan arsitektur hijau (green architecture) karena sama - sama berhubungan dengan  sumber daya alam.
Dalam menerapkan sebuah desain berwawasan lingkungan berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan :
  • Memperhatikan hubungan antara ekologi dan arsitektur, yaitu hubungan antara massa bangunan dengan makhluk hidup yang ada disekitar lingkungannya, tak hanya manusia tetapi juga flora dan fauna nya. Pendekatan ekologis dilakukan untuk menghemat dan mengurangi dampak–dampak negatif yang ditimbulkan dari terciptanya sebuah massa bangunan, akan tetapi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar.
  • Memberikan dampak pada estetika bangunan
  • Dapat memberikan pemecahan masalah pada tata letak bangunan atau kota.
  • Memperhatikan kondisi lahan yang akan dibangun. Sebagai contoh bila bangunan akan didirikan pada lahan yang memiliki kemiringan, maka dengan pendekatan ekologis bisa dicarikan solusinya seperti memperkuat pondasi, atau menggabungkan unsur alam pada lingkungan dengan bangunan yang ada sehingga semakin estetis bangunan yang tercipta.


CONTOH BANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN YANG BERHASIL
Perpustakaan UI


Bangunan ini dirancang dengan konsep sustainable building bahwa kebutuhan energi menggunakan sumber terbarukan, yakni energi matahari (solar energy) yang dipasang di atap bangunan.
Selain itu, di dalam gedung pengunjung dan pegawai tidak boleh membawa tas plastik untuk wadah. Area bangunan ramah lingkungan itu bebas asap rokok, hemat listrik, air, dan kertas. Hal ini membuat bangunan ini jadi lebih nyaman digunakan tanpa adanya asap rokok yang mengotori polusi udara.
Punggung bangunan dari gedung ini ditimbun tanah dan ditanami rerumputan untuk mendinginkan suhu ruangan di dalamnya. Hal ini mereduksi fungsi alat pendingin udara sampai 15 persen. Sementara Interior bangunannya didesain terbuka dan menyambung antara satu ruang dan ruang yang lain melalui sistem void. Dengan begitu, penggunaan sirkulasi udara alam menjadi maksimal. 
Walaupun lebih dari sebagian bangunan tersebut ditimbun lapisan tanah dan rumput, kondisi ruangan tidak gelap. Sebab, di antara punggung rerumputan itu terdapat jaringan-jaringan selokan yang di sampingnya terdapat kaca tebal bening selebar 50 sentimeter. Selokan itu untuk mengalirkan air hujan ke tanah resapan, sedangkan fungsi kaca sebagai sistem pencahayaan.
Untuk memenuhi standar ramah lingkungan, bangunan juga dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah. Karena itu, air buangan toilet dapat digunakan untuk menyiram di punggung bangunan. Tentunya, setelah diproses melalui pengolahan limbah atau sewage treatment plant (STP). 


Sumber : http://www.jpnn.com/m/news.php?id=70970